Kisah UPZ: “Di Tangga Masjid”

Hari itu selepas maghrib, saya keluar melalui pintu utara. Nampak 3 orang jamaah asyik bercengkerama dengan seorang bapak penjual roti di teras paling luar. Niat hati semula ingin bergabung. Namun mata saya menangkap sosok lain. Di tangga masjid, seorang laki-laki paruh baya duduk sendiri. Rambutnya kusut, wajahnya menunduk. Sekali-sekali tangannya naik mengusap pipi yang basah.
Saya berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
“Ada apa, Pak? Cerita kalau ingin cerita”
Dia bertutur perlahan. Bahwa dirinya sudah setahun sakit dan tak bisa bekerja, dan akhirnya Istrinya memintanya pergi. Singkat cerita, saya tawarkan untuk mengantarnya pulang, barangkali bisa membujuk keluarganya. Namun dengan suara lirih ia menjawab, “Sampun mboten saged.” — Sudah tidak bisa, sambil menujuk tas yang ia sandarkan di tembok.
“Istirahatlah di sini dulu, Pak. Mandi biar segar. Nanti makan.” Lalu saya meminta jamaah tadi berbagi roti untuknya.
Tak lama, seorang petugas keamanan mendekati saya. Saya potong lembut sebelum ia sempat bersuara.
“Saya tahu maksud Bapak. Tapi saya tidak boleh punya cara pandang yang sama seperti bapak. Masjid ini harus terbuka bagi siapa saja, apalagi mereka yang saat ini sedang patah dan ingin curhat dengan Tuhannya”.
“Cukup Bapak amati saja. Tanya baik-baik, tanyakan identitas kalau memang beliau perlu menginap”.
Satpam itupun menjawab: “Siap pak”
Malam itu saya pulang dengan rasa haru sekaligus prihatin. Sebab saya sadar: seindah apa pun masjid, sehangat apa pun tempat ibadah, tidak akan pernah cukup menggantikan hangatnya cinta dan lapangnya keluarga. Rumah yang sesungguhnya bukanlah dinding dan atap. Rumah adalah ketika ada orang yang tetap menerima, meski kita sedang tidak punya apa-apa.
Semoga masjid selalu menjadi pelukan bagi semua yang mencari ketenangan dan harapan.
Oleh: Tim UPZ Masjid Raya Taman Yasmin
| Tahun Berdiri | 2001 |
